Kemarau di waktu yang seharusnya bermula namun tiada kunjung berada hingga tertutup oleh basah. Melawan prediksi yang perlahan berubah oleh waktu yang terus mengiringi. Hingga pada pertemuan itu cukup 2 musim untuk melewatinya yang menyadarkan bahwa takdir adalah nyata yang tak bisa untuk terus di genggam oleh intuisi yang sesaat. Tak semestinya memaksa dengan gigih bilamana yang terlewat telah terlupakan dengan arif, seperti daun yang gugur ditengah musim berganti tunas menghijau berbunga dan gugur kembali. Bukankah dunia ini baru saja permulaan yang tiada habis dan tak akan pernah kekal, serta merta ada patah dan bahagia yang mengarunginya.Lantas mengapa terus memaksa bahagia senantiasa datang bila syukur saja harusnya sudah mencukupi semua yang ada dan termiliki. Beginilah adanya tiada bisa berucap ikhlas dan sabar diantara nikmat yang tak pernah usai, waktu biarkan aku berpeluk kesah dalam kerapuhan namun jangan biarkan termakan oleh penghabisan yang tak bermakna. Bawalah segala yang ada termiliki dalam takdir yang di ridhoi-Nya.
Bahasa banyak kata dan kalimat yang dapat berbeda makna Pembeda maksud dan tujuan yang tidak bersekat Terungkapkan meski sulit untuk memahami dan dipahami Hanya saja kondisi belum dapat dinyatakan Dengan lantang dan tegas terucap Terselip do'a yang tak pernah berjarak Boleh jadi karena ungkapan dari lubuk hati kepada-Nya Yang dapat memahami dan tak memaksa untuk datang maupun pergi Tanpa menghakimi Namun selalu mengerti. Bagaimanapun... Dimanapun, dan sampai kapanpun Saat senja menjelang, Jakarta 06 Juni 2020
Komentar
Posting Komentar